AKURATLAMPUNG – Padepokan Debus Surosowan tercatat sebagai padepokan debus tertua di Provinsi Banten. Berdiri sejak awal 1950-an, padepokan ini berlokasi di Kampung Turus, sekitar Stasiun KA Tegalsari, Kecamatan Walantaka, Kota Serang.
Padepokan Debus Surosowan memiliki rekam jejak panjang di panggung nasional dan internasional. Tercatat, kelompok debus ini telah 16 kali tampil pada festival internasional dan bahkan pernah mendapat undangan khusus untuk pentas di Istana Negara pada era Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto.
Mengutip buku Persamuhan di Banten yang dilansir Proserang.com, Ketua DPP Debus Surosowan, Kang H. Muhammad Suminta Idris, S.H.—putra pendiri padepokan—menjelaskan perjalanan panjang padepokan yang didirikan oleh Abah Guru KH Muchammad Idris (alm).
Menurutnya, Debus Surosowan telah berkali-kali tampil di luar Banten dan ke mancanegara. Pada 1970, rombongan debus ini melakukan lawatan ke Jepang selama satu pekan. Selanjutnya, mereka dua kali tampil di Malaysia pada 1972 dan 1974 dengan tujuan Kuala Lumpur serta Sarawak (Kuching).
Perjalanan internasional berlanjut pada 1978 ke Filipina, kemudian ke Singapura pada 1986 dan 1989, Brunei Darussalam pada 1987, serta Thailand pada 1989 dan 1995. Bahkan pada 1990, Debus Surosowan melakukan tur keliling Asia selama sekitar satu setengah bulan.
Tak hanya Asia, Debus Surosowan juga menjejakkan kaki di sejumlah negara Eropa dan Amerika. Pada awal 2000-an, mereka tampil di Spanyol, Turki, Prancis, serta Kanada. Terakhir, pada akhir 2015, Debus Surosowan kembali tampil di Swiss.
Saat ini, padepokan dikelola oleh H. M. Suminta Idris, S.H., selaku Ketua DPP Debus Surosowan Banten. Sementara itu, Ketua Debus Surosowan Provinsi Lampung, H. Tb. Ismail, S.H., menyebut antusiasme masyarakat luar Banten terhadap debus sangat tinggi. Bahkan, sejumlah warga negara asing asal Belanda dan Inggris pernah berkunjung langsung ke padepokan.
Kunjungan tersebut tidak hanya untuk menyaksikan latihan dan pertunjukan, tetapi juga mempelajari debus. Padepokan Debus Surosowan masih mengoleksi perlengkapan bersejarah seperti tusuk besi (almadad) dan golok besar yang disebut berasal dari era Sultan Hasanuddin.
Padepokan ini diwariskan oleh Abah Guru KH Muchammad Idris (1903–2002), seorang ulama yang dikenal berperan dalam melanjutkan proses islamisasi masyarakat Banten. Menurut H. Tb. Ismail, pada masa Sultan Hasanuddin, debus menjadi media dakwah. “Dulu orang yang ingin menonton debus harus mengucap syahadat dan dikhitan,” ujarnya.
Selain sebagai sarana dakwah, debus juga digunakan untuk menurunkan mental penjajah. Namun pada era Sultan Haji, ketika pengaruh Belanda menguat, permainan debus dilarang dan perlahan menghilang karena alat-alatnya harus disembunyikan.
Kesenian Debus Surosowan kembali menemukan momentum kebangkitannya pada awal 1950-an, saat Presiden Soekarno berkunjung ke Banten. Presiden pertama Republik Indonesia itu meminta agar debus kembali dimainkan sebagai bagian dari warisan perjuangan rakyat Banten melawan penjajah.
Permintaan tersebut disambut oleh KH Muchammad Idris yang sejak 1948 secara diam-diam telah merintis kebangkitan Debus Surosowan. Dengan dukungan mandat Presiden Soekarno, debus yang sempat mati suri kembali menggeliat hingga akhirnya tampil di Istana Negara pada era Soekarno dan Soeharto.
Terlepas dari atraksi kekebalan yang kerap melekat pada debus, H. Tb. Ismail menegaskan bahwa Debus Surosowan bukan sekadar soal fisik. Menurutnya, Abah Guru KH Muchammad Idris kerap menyebut debus sebagai praktik zikir batin dan salawat yang berakar pada Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.
Saat ini, murid Debus Surosowan berasal dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang dewasa, bahkan dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tidak hanya dilatih fisik, tetapi juga mental dan batin, melalui laku spiritual seperti puasa hingga 40 hari di bawah bimbingan seorang syekh.
Debus Surosowan pun terus dijaga sebagai warisan budaya dan spiritual masyarakat Banten yang sarat nilai sejarah, dakwah, dan perjuangan.


