‎Dinas PU Bandar Lampung Siapkan Masterplan Drainase Perkotaan

Ilustrasi Master Plan Perkotaan. Sumber/Ist

AKURAT LAMPUNG, BANDAR LAMPUNG – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bandar Lampung menyiapkan masterplan drainase perkotaan untuk memperkuat langkah penanganan sistem drainase secara terintegrasi dan berkelanjutan. Upaya ini dilakukan guna mengurangi persoalan banjir dan genangan yang kerap terjadi di Kota Tapis Berseri.

‎Kepala Dinas PU Bandar Lampung, Dedi Sutiyoso, melalui Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA), Irwan Maidi Saputra, menjelaskan bahwa masterplan drainase merupakan rencana induk komprehensif yang mengatur pengelolaan drainase kota dalam jangka panjang, menengah, dan pendek.

‎“Masterplan drainase memiliki peran krusial sebagai pedoman teknis dalam pengelolaan air permukaan. Selain mengatasi persoalan banjir dan genangan saat musim hujan, dokumen ini juga memberikan arahan terkait aliran air harus menuju ke mana,” jelas Irwan saat ditemui di kantornya, Selasa (02/12/2025).

‎Irwan menambahkan, keberadaan masterplan akan membantu pemerintah dalam menghitung kebutuhan pembangunan drainase secara lebih tepat.

‎“Kemarin kami sempat ditanya Anggota Komisi III DPRD mengenai berapa kebutuhan anggaran untuk mengatasi permasalahan drainase. Namun karena keterbatasan data, kami belum bisa menghitung total kebutuhan secara menyeluruh. Karena itu masterplan menjadi pedoman utama ke depan untuk memetakan kondisi aliran air di Kota Bandar Lampung,” ujarnya.

‎Saat ini, Dinas PU masih menggunakan data tahun 2019 dan 2021, serta berbagai sumber komprehensif lainnya termasuk masukan masyarakat melalui musrenbang dalam melakukan pembangunan drainase.

‎Menurut Irwan, masterplan akan memberikan gambaran mengenai wilayah yang harus diprioritaskan dalam pembenahan aliran air.

‎“Dalam pembangunan drainase, kita perlu menghitung debit air dan menentukan arah pembuangannya agar tidak terjadi penumpukan. Ketika membangun drainase di suatu kawasan, harus jelas ke mana air akan dialirkan. Masterplan ini membantu kita menentukan skala prioritas pembangunan,” kata Irwan.

‎Ia juga menyebutkan bahwa sistem drainase di kawasan perkotaan sebenarnya cukup optimal dalam mengalirkan air.

‎“Pekerjaan rumah kita berada di wilayah pinggiran kota atau daerah yang berada di hulu dan hilir. Di kawasan tersebut, sistem drainase masih kurang optimal. Sementara di tengah kota, persoalannya lebih kepada tumpukan kotoran,” paparnya.

‎Irwan menekankan bahwa penanganan persoalan drainase membutuhkan peran serta semua pihak, terutama dalam menjaga kebersihan saluran agar tidak menyempit atau tersumbat, termasuk akibat bangunan liar di sekitar daerah aliran sungai.

‎“Kita juga harus bersama-sama membangun kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan dan rutin mengurangi sedimentasi,” tambahnya.

‎Melihat kondisi lapangan dan pengalaman peristiwa banjir sebelumnya, Irwan menegaskan bahwa sektor drainase merupakan prasarana vital dalam penanganan banjir dan genangan. Normalisasi yang dilakukan saat ini masih bersifat parsial untuk menginventarisasi dan memetakan kondisi saluran yang ada.

‎“Setelah masterplan selesai, kami optimis penanganan drainase ke depan akan lebih terarah dan berkelanjutan dengan menerapkan konsep drainase perkotaan berbasis lingkungan. Perencanaan menyeluruh dapat dilakukan sehingga diharapkan mampu memperbaiki sistem drainase yang ada,” tutupnya.

BERITA TERKAIT
error: Content is protected !!