Perspektif Pengamat: Akademisi Itera
– Rangkaian bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh dalam sepekan terakhir menjadi alarm keras bagi daerah lain di Indonesia. Hujan ekstrem, banjir bandang, dan longsor yang terjadi meninggalkan dampak besar: korban jiwa, kerusakan infrastruktur, hingga lumpuhnya aktivitas masyarakat. Kejadian ini semestinya menjadi bahan refleksi serius bagi Provinsi Lampung, khususnya Kota Bandar Lampung yang memiliki karakteristik kerentanan yang kurang lebih sama.
Lampung berada pada wilayah dengan curah hujan tinggi, kontur perbukitan, dan aliran sungai yang
mengalir melewati permukiman padat penduduk. Di Bandar Lampung sendiri, kawasan seperti
Kedamaian, Teluk Betung, Way Halim bagian atas, Sukarame, hingga Rajabasa kerap menjadi sorotan
ketika musim hujan tiba. Kombinasi topografi curam, pertumbuhan kota yang cepat, serta
berkurangnya ruang terbuka hijau membuat kota ini memiliki risiko banjir dan longsor yang
meningkat dari tahun ke tahun.
Berkaca dari Bencana di Sumatera
Pelajaran dari bencana yang baru terjadi di Sumbar, Sumut, dan Aceh menunjukkan satu pola
penting: curah hujan ekstrem yang datang tiba-tiba akan memperlihatkan kelemahan tata ruang dan
pengelolaan lingkungan suatu daerah.
Penyempitan sungai, sedimentasi yang tidak tertangani, drainase perkotaan yang tersumbat, serta pembangunan yang tidak memperhatikan kondisi lereng menjadi faktor yang memperparah dampak bencana. Jika pola ini tidak diantisipasi, kejadian serupa bukan tidak mungkin terjadi di Lampung.
Oleh karena itu, mitigasi tidak boleh hanya menjadi wacana setiap kali musim hujan datang.
Pemerintah perlu memperkuat pemetaan kawasan rawan dan menyosialisasikannya secara terbuka
kepada masyarakat.
Drainase kota yang sudah tidak memadai harus direvitalisasi, terutama di
kawasan padat penduduk yang sering tergenang. Pengawasan terhadap alih fungsi lahan di
perbukitan juga harus diperketat karena banyaknya pembangunan perumahan yang berpotensi
mengganggu kestabilan lereng dan mengurangi daerah resapan air.
Selain itu, penting bagi Lampung untuk memperkuat sistem peringatan dini berbasis sensor cuaca
dan tinggi muka air. Jika masyarakat mendapatkan informasi lebih cepat, potensi korban jiwa akibat
banjir dan longsor dapat ditekan. Namun, keberhasilan mitigasi tidak hanya bertumpu pada
teknologi dan kebijakan. Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan dan mengubah
kebiasaan sehari-hari yang dapat memicu bencana, seperti membuang sampah ke saluran air atau
menebang pohon di daerah miring.
Tragedi yang terjadi di Sumbar, Sumut, dan Aceh harus menjadi cermin bagi Lampung. Bencana tidak
memilih tempat dan waktu, tetapi dampaknya dapat diminimalkan jika kesiapsiagaan dilakukan sejak
dini. Bandar Lampung, sebagai kota besar yang terus berkembang, tidak boleh menunggu sampai
bencana datang baru bertindak.
Keselamatan warga adalah prioritas yang harus dijaga bersama, dan mitigasi bencana hidrometeorologi harus dimulai dari sekarang. Dengan langkah-langkah preventif
yang terencana, koordinasi yang kuat, serta kepedulian masyarakat, Lampung dapat menjadi daerah
yang lebih tangguh dalam menghadapi ancaman bencana yang semakin tidak terduga.
Tentang Penulis:
Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T., adalah dosen di Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air
Terpadu, Institut Teknologi Sumatera (ITERA).
Ahli dalam bidang hidroogi Forensik dan Sumberdaya Air. Aktif dalam riset pengelolaan sumber
daya air, konservasi lingkungan, serta edukasi kebencanaan di masyarakat
Belajar dari Bencana Sumatera: Lampung Harus Tingkatkan Mitigasi dan Kewaspadaan Hidrometeorologi


