Diduga Menu Dianggap Tak Sesuai Pagu, MBG Dari SPPG Mukti Karya Dikomplain Wali Murid

MESUJI – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 11 panca jaya , Kecamatan panca jaya, kembali menjadi perhatian para wali murid.

Mereka menilai komposisi makanan yang diterima siswa pada Sabtu (7/3/2026). terlalu sederhana dan diduga tidak sebanding dengan pagu anggaran yang semestinya dialokasikan untuk program pemenuhan gizi tersebut.

Diketahui menu dari MBG tersebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) SDN 11 panca jaya, desa Mukti karya, kecamatan panca jaya.

Sejumlah orang tua siswa mengaku mencoba menghitung sendiri perkiraan nilai paket makanan yang dibagikan kepada anak-anak mereka dengan mengacu pada harga pasaran.

Dari perhitungan tersebut, nilai makanan per porsi diperkirakan hanya berkisar antara Rp 1000 hingga Rp2500 dan 2000.

Salah satu wali murid, sebut saja mawar yang enggan disebutkan namanya, menjelaskan bahwa menu yang diterima siswa umumnya terdiri dari roti , kurma, telur berukuran kecil yang sudah di bagikan kemarin,. Untuk siswa kelas rendah, menu tersebut dibagikan tanpa tambahan lain.

“Kalau dihitung dari harga pasar, roti sekitar Rp1.000, telur kecil Rp2.000, dan kurma 3 biji kira-kira Rp2.000. Jadi totalnya kurang lebih Rp5.000,” ujar mawar, Sabtu (7/3/2026).

Sementara untuk siswa kelas ,2,3,4,5,” hingga kelas 6, menu yang diterima hampir sama, hanya ditambah satu butir telur yang di bagikan hari kemarin, jumat (6/3/2026) ujar MBG nya. Ujarnya bunga’ Dengan tambahan tersebut, nilai paket makanan diperkirakan sekitar Rp 5.000.

Menurut mawar, perkiraan tersebut merupakan hitungan sederhana para wali murid karena hingga saat ini mereka mengaku belum pernah menerima informasi resmi mengenai rincian harga atau komposisi anggaran dari penyelenggara program.

Ia juga menyebut bahwa keluhan serupa sebenarnya sudah pernah disampaikan kepada pihak terkait sebelumnya.

Namun hingga kini, para wali murid menilai belum ada perubahan berarti dalam penyediaan menu makanan.

“Dulu sempat kami sampaikan keberatan dan dijanjikan akan ada perbaikan, tetapi sampai sekarang menunya masih sama,” katanya.

Selain komposisi menu, para orang tua juga menyoroti penggunaan susu kemasan yang disebut sebagai bagian dari program bantuan gratis dari Presiden.

Namun dalam praktiknya, susu tersebut tetap dimasukkan sebagai komponen menu dengan nilai sekitar Rp3.000.

Hal itu menimbulkan pertanyaan dari wali murid mengenai transparansi pengelolaan program. Mereka juga menyoroti kualitas beberapa makanan yang dinilai kurang layak, termasuk adanya menu yang disebut disiapkan untuk konsumsi dua hari.

Para wali murid berharap ada evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut agar tujuan pemenuhan gizi siswa dapat benar-benar tercapai. Jika tidak ada perbaikan, mereka menyatakan akan mempertimbangkan langkah lanjutan.

“Mohon maaf, untuk penjelasan yang lebih detail bisa dikonfirmasi langsung ke pak Arip melalui pesan WhatsApp hanya di bukanya saja.

Tanpa ada jawaban yang pasti, hingga berita ini kami terbitkan.

(Red/Tim).

BERITA TERKAIT

Tinggalkan Balasan