AKURATLAMPUNG – Atraksi Debus Surosowan yang ditampilkan Pendekar Banten pada 29 Oktober 2025 di Sekretariat Pendekar Banten Kota Metro, Provinsi Lampung, Jalan Satlit I Nomor 17, bukan sekadar pertunjukan kekebalan tubuh. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi manifestasi nilai luhur tentang keteguhan hati, pengendalian diri, serta keikhlasan dalam menempuh jalan spiritual.
Dalam atraksi tersebut, para pendekar tampil penuh keyakinan dan ketenangan. Setiap gerak dan ritual dijalani dengan niat yang bersih, mencerminkan ajaran bahwa kekuatan sejati tidak bersumber dari amarah maupun dendam, melainkan dari penguasaan diri serta kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menariknya, dalam setiap tusukan maupun pukulan yang diterima, tidak terlihat sedikit pun hasrat untuk membalas. Sikap ini merefleksikan keyakinan para pendekar bahwa ketika disakiti, Tuhan adalah sebaik-baik pembalas, sementara manusia cukup menjaga akhlak dan martabatnya.
Pesan moral tersebut dinilai relevan di tengah kehidupan sosial saat ini, bahwa kekuatan tanpa kendali hanya akan melahirkan kesia-siaan, sedangkan kekuatan yang dibingkai keimanan justru menumbuhkan keteduhan dan kebijaksanaan.
Apresiasi juga patut diberikan kepada Ketua Pendekar Banten, H. TB Ismail S, SH, yang dinilai tidak hanya memimpin secara struktural, tetapi juga menjadi teladan dalam nilai, adab, dan laku hidup. Di bawah kepemimpinannya, Pendekar Banten diarahkan untuk menjauhi kesombongan kekuatan dan lebih menekankan pengabdian, kedisiplinan batin, serta penghormatan terhadap hukum dan kemanusiaan.
Filosofi yang ditanamkan menegaskan bahwa debus bukan ajang pamer kesaktian, melainkan sarana dakwah budaya yang mengajarkan kesabaran, keteguhan iman, serta tanggung jawab moral kepada sesama.
Kehadiran Kapolres Metro AKBP Hangga Utama Darmawan, SIK, dalam kegiatan tersebut dimaknai sebagai simbol sinergi antara budaya, spiritualitas, dan aparat penegak hukum. Kearifan lokal seperti debus dinilai mampu menjadi perekat persatuan sekaligus penanam nilai moral di tengah dinamika zaman.
Pendekar Banten tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga merawat nurani. Selama nilai ketulusan dan kepemimpinan yang bijak terus dijunjung, Pendekar Banten diyakini akan tetap berdiri tegak sebagai penjaga marwah budaya dan akhlak bangsa.


