AKURATLAMPUNG, BANDAR LAMPUNG — Di balik geliat pembangunan dan gemerlap Kota Bandar Lampung, masih terdapat potret kehidupan warga yang menghadapi keterbatasan ekonomi. Salah satunya terlihat dari seorang anak bernama Daud yang masih duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar, namun harus turun mencari barang bekas atau rongsokan untuk mendapatkan uang jajan.
Anak tersebut ditemui tengah mencari barang bekas di wilayah Kecamatan Enggal, Bandar Lampung, Jumat (2/10/2026).
Kepada awak media, anak tersebut mengaku masih bersekolah dan mencari rongsokan untuk mendapatkan uang jajan. Ia juga mengatakan aktivitas tersebut dilakukan atas permintaan ayahnya.
”Masih sekolah bang, kelas 2. Mencari uang jajan dan disuruh bapak,” ujar anak tersebut.
Dari aktivitas itu, uang yang diperoleh disebut tidak besar. Dalam sehari, penghasilannya terkadang hanya sekitar Rp5 ribu dan paling banyak sekitar Rp10 ribu.
Pemandangan tersebut menjadi kontras dengan wajah Kota Bandar Lampung yang terus berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan dan berbagai aktivitas ekonomi di Lampung.
Di satu sisi, geliat pembangunan dan aktivitas ekonomi terus terlihat di berbagai penjuru kota. Namun di sisi lain, masih ada keluarga yang menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan dasar hingga membuat anak usia sekolah ikut mencari penghasilan.
Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian Dinas Sosial Kota Bandar Lampung.
Kepala Dinas Sosial Kota Bandar Lampung, Aklim Sahadi, mengatakan keluarga anak tersebut sebenarnya telah tercatat dalam kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah berdasarkan data yang digunakan pemerintah.
”Dinas Sosial Kota Bandar Lampung telah memberikan bantuan kepada keluarga anak tersebut. Telah masuk dalam kategori Desil 1 dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS/DTSEN sesuai data yang digunakan pemerintah),” ujar Aklim, Jumat malam (2/10/2026).
Menurut Aklim, keluarga tersebut juga telah menerima sejumlah bantuan sosial, di antaranya bantuan sembako dan beras. Selain itu, keluarga juga pernah mendapatkan bantuan Atensi berupa kasur untuk ibu anak tersebut.
Tak hanya bantuan sosial, pemerintah juga disebut telah menawarkan alternatif melalui program Sekolah Rakyat.
Aklim mengatakan tawaran tersebut telah disampaikan melalui pendamping sosial sejak Mei lalu. Namun, pihak keluarga memilih tidak mengambil kesempatan tersebut karena menilai anak masih mampu mengikuti pendidikan di sekolah umum.
”Yang bersangkutan warga Kecamatan Enggal. Sudah pernah ditawari untuk mengikuti program Sekolah Rakyat, tetapi orang tuanya menolak karena merasa anaknya masih mampu bersekolah di sekolah biasa,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi pendidikan anak tersebut sebelumnya memang telah menjadi perhatian pendamping sosial.
Munculnya kembali perhatian publik setelah anak tersebut terlihat mencari rongsokan, kata Aklim, menjadi momentum untuk melihat lebih jauh kondisi keluarga sekaligus memastikan kebutuhan dasar dan pendidikan anak tetap terpenuhi.
Meski keluarga telah masuk dalam data penerima bantuan dan mendapatkan sejumlah intervensi pemerintah, aktivitas anak usia sekolah mencari barang bekas tetap menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Sebab, persoalan tersebut tidak hanya berbicara mengenai kemiskinan, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak anak untuk memperoleh pendidikan, bermain dan tumbuh dalam lingkungan yang aman.
Potret tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa di tengah perkembangan Kota Bandar Lampung, masih terdapat persoalan ekonomi di tingkat keluarga yang membutuhkan penanganan lebih menyeluruh.
Bantuan sosial menjadi salah satu bentuk intervensi, namun pendampingan keluarga, pemantauan pendidikan serta memastikan anak tidak terbebani aktivitas mencari penghasilan juga menjadi bagian penting dalam penanganan persoalan tersebut.
Pemerintah daerah dan pihak terkait kini perlu memastikan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak berujung pada berkurangnya hak anak untuk belajar dan tumbuh secara layak.
Di Balik Gemerlap Bandar Lampung, Daud Bocah Kelas 2 SD Cari Rongsokan untuk Uang Jajan

