AKURATLAMPUNG, BANDAR LAMPUNG – Peristiwa banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Bandar Lampung akibat hujan deras pada Jumat (6/3/2026) kembali memakan korban jiwa. Seorang bocah berusia 10 tahun dilaporkan terseret arus banjir di wilayah Kecamatan Rajabasa.
Kejadian ini memicu perhatian publik, mengingat persoalan banjir di Kota Bandar Lampung dinilai belum menemukan solusi yang tuntas. Menanggapi hal itu, Ketua Masyarakat Peduli Tata Kota (MPTK) Provinsi Lampung, Fikri, mendesak Pemerintah Kota Bandar Lampung segera mengambil langkah mitigasi yang konkret, salah satunya dengan memasang alat deteksi banjir di sejumlah titik rawan dan aliran sungai.
“Kita semua tentu berduka atas korban meninggal dunia akibat banjir kemarin. Karena itu kami mendesak Pemkot untuk segera melakukan mitigasi risiko banjir dengan memasang alat deteksi banjir di sejumlah kawasan yang menjadi langganan banjir sebagai solusi jangka pendek,” ujar Fikri kepada media, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, keberadaan alat deteksi banjir dapat membantu meminimalisir dan mengurangi potensi kerugian material dan korban jiwa akibat bencana mendatang, untuk itu hal ini cukup penting untuk jadi salah satu solusi dengan memberikan peringatan dini kepada masyarakat.
“Dengan adanya deteksi banjir, kerugian material bisa diminimalisir dan masyarakat juga mendapat peringatan lebih awal saat curah hujan tinggi yang berpotensi menimbulkan banjir. Sehingga warga bisa lebih waspada dan memperhitungkan kondisi yang akan terjadi,” jelasnya.
Fikri juga menilai, alat deteksi dini banjir ini dapat disinkronisasikan dengan sistem pada program CCTV Seribu Wajah milik Pemerintah Kota Bandar Lampung.
“Program CCTV Seribu Wajah milik Pemkot bisa dikolaborasikan dengan alat deteksi banjir. Kamera pengawas dipasang di titik-titik rawan banjir sehingga pemerintah dapat memantau kondisi secara langsung dan lebih cepat mengambil keputusan, termasuk dalam penanganan darurat maupun penyaluran bantuan,” katanya.
Ia menambahkan, gagasan alat deteksi banjir tersebut sebenarnya pernah dikembangkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung di wilayah Kelurahan Panjang Selatan.
“Mahasiswa KKN Unila pernah mencoba membuat alat deteksi banjir di Kelurahan Panjang Selatan. Namun karena keterbatasan dukungan, kemungkinan mereka masih kekurangan anggaran untuk menyempurnakan alat tersebut, dan program ini telah dilakukan dibeberapa wilayah di pulau jawa” imbuhnya.
Fikri menegaskan bahwa persoalan banjir merupakan masalah kompleks yang membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Ia pun mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi terbaik, bukan saling menyalahkan.
“Permasalahan banjir ini cukup rumit, sehingga perlu kerja sama semua pihak untuk mencari solusi terbaik demi keselamatan masyarakat,” pungkasnya.
MPTK Desak Pemkot Bandar Lampung Pasang Alat Deteksi Banjir untuk Kurangi Risiko Korban
Ilustrasi
