KOTA METRO – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) genap berusia 78 tahun. Momentum ini menjadi pengingat bahwa pencak silat bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga benteng akhlak dan jati diri bangsa di tengah derasnya arus zaman.
Ketua Pendekar Banten Kota Metro sekaligus Pimpinan Seni Debus Surosowan Provinsi Lampung, H. TB Ismail,S. S.H., menyampaikan ucapan selamat dan harapan keras namun konstruktif untuk IPSI ke depan.
“Selamat Hari Ulang Tahun ke-78 Ikatan Pencak Silat Indonesia. 18 Mei 1948 – 18 Mei 2026. Semoga IPSI terus jaya, menjaga marwah budaya bangsa, dan melahirkan pendekar berakhlak mulia untuk Indonesia, ujar H. Tb. Ismail,S. S.H.
Ia menegaskan, di usia 78 tahun IPSI harus berani berbenah. Pencak silat harus keluar dari sekadar arena kompetisi dan kembali ke ruh asalnya sebagai ilmu yang membentuk karakter, disiplin, dan ksatriaan.
“Jangan biarkan silat hanya jadi tontonan panggung dan medali. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap pendekar menjadi teladan di masyarakat. Silat itu adab dulu, baru teknik. Kalau adab hilang, yang tersisa hanya kekerasan tanpa arah,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan IPSI ke depan adalah menjaga marwah budaya di tengah degradasi moral generasi muda. Perguruan dan pengurus di daerah harus bersinergi dengan pemerintah, tokoh adat, dan ulama untuk menjadikan silat sebagai sarana pendidikan karakter.
“Pencak Silat bukan hanya seni bela diri, tapi jati diri bangsa. Kalau jati diri ini hilang, kita kehilangan arah sebagai bangsa. Maka tugas kita semua, terutama para pendekar, adalah menjaga api itu tetap menyala,” tutupnya.
Tentang H. TB Ismail, S. S.H.
Beliau adalah Ketua Pendekar Banten Kota Metro dan Pimpinan Seni Debus Surosowan Provinsi Lampung yang konsisten dalam pelestarian budaya silat dan debus sebagai warisan leluhur Nusantara.


